EVALUASI KERAPATAN STASIUN HUJAN MENGGUNAKAN METODE KAGAN-RODDA PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI TUKAD AYUNG
Abstract
Pengembangan sumber daya air biasanya diawali dengan analisa hidrologi dan memerlukan data hidrologi yang cukup akurat agar pengembangan sumber daya air yang dilakukan efektif dan efisien. Data hidrologi yang dimaksud adalah data curah hujan, data debit air dan data iklim, semua data tersebut diperoleh dari pemantauan pos hidrologi yang tersebar dalam Daerah Aliran Sungai (DAS). Dibutuhkan sebaran letak stasiun hujan yang merata agar mendapatkan data yang akurat. Beberapa penelitian yang sudah dilakukan pada DAS Tukad Ayung mempergunakan stasiun hujan yang berbeda-beda. Mempertimbangkan hal tersebut perlu dilakukan sebuah evaluasi jaringan stasiun hujan dari daerah hulu (up stream) sampai hilir (down stream) guna mendapatkan stasiun hujan yang lebih efektif. Berdasarkan hasil analisa WMO (World Meteorogical Organization) 25 km2/stasiun hujan hanya 5 dari 14 stasiun yaitu Stasiun Catur, Stasiun Kintamani, Stasiun Pelaga, Stasiun Kerta dan Stasiun Abiansemal yang memenuhi kerapatan minimum. Dari hasil analisa Kagan-Rodda berdasarkan kesalahan perataan (Z1) = 5,101 %, kesalahan interpolasi (Z3) = 11,74 % dan panjang jaring L = 3,957 km didapat stasiun hujan untuk mewakili daerah hulu DAS yaitu Stasiun Catur, Stasiun Pelaga dan Stasiun Kerta. Daerah tengah DAS diwakili oleh Stasiun Tegallalang, Stasiun Petang, Stasiun Luwus dan Stasiun Abiansemal. Daerah hilir DAS dapat diwakili oleh Stasiun Celuk, Stasiun Penatih dan Stasiun Sumerta.





.png)




